Tua Rajin Menuntut Ilmu

Abu Mughits August 18, 2015 Blog
Tua rajin menuntut ilmu

Sebenarnya sudah lama ingin mengetik cuplikan pelajaran ini, pelajaran adab dan akhlaq Asy-Syaikh Prof. Dr. Abdurrazzaq bin AbdilMuhsin Al-Abbad hafizhohullaah ketika beliau mengisi muhadhoroh di Lombok. Memang saya hanya bisa melihat dari rekaman videonya di yufid.tv, tapi hal itu tidak boleh menghalangi kita menuai pelajaran.

Tema yang dibahas ketika itu “Sebab-Sebab Keselamatan Di Hari Kiamat”. Tentu muhadhoroh beliau syarat dengan ilmu dan faedah agung. Tapi tidak hanya itu, di awal sebelum muhadhoroh di mulai pun kita sudah bisa mengambil pelajaran dari sifat tawadhu’ beliau hafizhohullaah yang ingin duduk sejajar dengan Ustadz Firanda hafizhohullaah sebagai penerjemah, bukan di tempat duduk yang biasanya telah disediakan. Dan di akhir sebelum Syaikh menutup muhadhoroh, beliau berusaha mengajukan pertanyaan kepada hadirin, pertanyaannya adalah, “Siapa yang bisa memberikan ringkasan kepada saya sebab-sebab keselamatan yang telah disampaikan tanpa syarah/penjelasan? Tidak mengapa dia membaca dari catatannya.”

Pada saat itu para hadirin mengangkat tangannya bahkan Ustadz Mizan pun ikut mengangkat tangan, namun syaikh belum memilih siapa yang berhak untuk menjawab, Syaikh meminta semua angkat tangan agar beliau bisa memilih. Akan tetapi saya melihat sepertinya syaikh menginginkan seseorang yang khusus mengangkat tangan untuk beliau pilih dan menjawab. Akhirnya beliau mengatakan bahwa beliau akan memilih sendiri dikarenakan si Bapak yang beliau inginkan tidak mengangkat tangan. Dan tepatlah ternyata beliau memilih seorang Bapak sepuh yang sangat semangat dalam menuntut ilmu bahkan bisa mengalahkan para pemudanya.

Syaikh langsung menunjuk tanpa ragu, padahal Bapak tadi tidak angkat tangan ketika awal pertanyaan dilontarkan. Akhirnya Bapak tadi hafizhohullaah berusaha menjawab satu persatu dengan melihat catatannya. Ketika Bapak itu menjawab, ditengah-tengah menjawab beliau sedikit tersendat-sendat kemudian hadirin yang lain tersenyum dan tertawa, namun apa yang Asy-Syaikh katakan? Beliau menyeru, “Jangan tertawa (tersirat dari wajah beliau ketidak sukaan karena hadirin tertawa, tidak terdengar beliau berbicara apa, tapi sepertinya beliau mengatakan ‘ini orang tua atau ini ilmu’ wallaahu a’lam).” Beliau sangat menghargai dan memperhatikan dengan perhatian yang hormat kepada Bapak yang menjawab.

Kemudian Asy-Syaikh mencukupkan dan memberi komentar tentang Bapak tadi, namun diawal beliau bertanya dengan sopan kepada Bapak tadi, “Aku ingin bertanya dengan pertanyaan yang semoga tidak ada masalah bagi bapak. Berapa Umur anda (beliau menyebut dengan sebutan syaikh)?” Si Bapak menjawab, “Sittah wa sab’iin.” Ustadz Firanda pun takjub dan bangga tentunya dengan berkomentar lirih, “Ma syaa Allaah.”

Kemudian Asy-Syaikh mengatakan, “Hakekatnya saya memilih bapak ini untuk menjawab bukan tanpa sebab, karena saya melihat beliau dari awal pelajaran sampai akhir pelajaran beliau selalu memegang pulpennya dan tidak meninggalkan pulpennya dari awal sampai akhir, dan beliau menulis dengan tekun dan teliti, dan kalian telah mendengar ringkasan apa yang beliau tulis dan apa yang beliau tulis jauh lebih banyak lagi. Aku melihat semangatnya bapak ini adalah semangatnya pemuda, bahkan melebihi semangatnya kebanyakan para pemuda. Yang kita temui mereka para pemuda duduk (di muhadhoroh) tanpa menulis satu huruf pun! Maka bapak ini semoga Allah membalas beliau dengan kebaikan yang memberikan pelajaran kepada kita dalam semangat dan mengingatkan kita bahwa menuntut ilmu tidak dibatasi oleh umur tua. Bahkan Imam Ahmad pernah ditanya, “Menuntut ilmu sampai kapan?” Imam Ahmad menjawab, “Dari wadah tinta sampai kuburan.” Menuntut ilmu itu terus menerus. Maka semangat Bapak ini (Syaikh menyebut beliau dengan “Syaikh Al-Fadhil”) semoga Allah membalas beliau dengan kebaikan yang telah memberikan pelajaran dalam pertemuan ini dan pelajaran penuh faedah bagi saya dan semuanya dengan izin Allah subahaanahu wata’aalaa. Dan aku memohon kepada Allah ‘azza wajalla semoga Dia memberkahi bapak ini dalam umurnya, dan menuntun beliau kepada ilmu yang bermanfaat, dan memberikan manfaat dari ilmunya, dan menuntun kita semua untuk ilmu yang bermanfaat dan amal yang sholih dan memberi hidayah kepada kita kepada jalan yang lurus.

Dan Bapak ini semoga Allah membalas beliau dengan kabaikan, saya mempunyai beberapa hadiah bukan satu hadiah. Dan hadiah pertama adalah hadiah yang disegerakan, ini jam tangan saya adalah hadiah yang disegerakan, dan hadiah yang lain in syaa Allaah akan sampai ke rumah beliau.” (sampai disini perkataan Syaikh sebelum menutup muhadhoroh.)

Ketika Syaikh memberikan jamnya kepada Bapak itu, Bapak itu maju mendekat kepada Syaikh, bersalaman, dan ketika si Bapak hendak menempelkan badannya kepada Syaikh (berpelukan) ternyata Syaikh merebut dan bergegas mencium kening Bapak tadi.

Allaahu Akbar! Sungguh akhlaq yang mulia dari yang Syaikh yang mulia dan bapak yang mulia pula, semoga Allah menjaga kita semua dari akhlaq yang buruk , semoga Allah memberikan anugerah kepada kita akhlaq yang mulia, dan menjadikannya amalan yang terberat pada Hari Akherat kelak.

Memang aku tidak mengenalnya, tapi aku mencintai Bapak pemilik umur “Sittah wa sab’iin” itu karena Allah. Semoga Allah selalu menjaga dan memberkahi Asy-Syaikh Prof. Dr. Abdurrazzaq, Al-Ustadz Firanda sebagai penerjemah di video itu, Ustadz Mizan dan Ustadz Mukti Ali yang juga hadir di majelis tersebut, dan juga semuanya.

Semoga bermanfaat.

Diketik oleh Abu ‘Abdillah Huda
Selepas Ashar 14 Robi’ul Awwal 1436
@Jalan Bendungan Kedung Ombo, Malang.

Sumber: https://www.facebook.com/photo.php?fbid=10203047599221607&set=a.1129676852819.2017855.1554151132&type=1



Write a Reply or Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *